Klaster

BUILDING A MIND FOR MACHINES: FIVE ORGANS, FOUR LAYERS, ONE HUMAN PURPOSE

Version 1.4 of this book was shared widely across engineering programs in Southeast Asia throughout the first half of 2026. The feedback was consistent: the framework was clear, the story compelling, but readers wanted depth. They wanted more equations, more code, more Indonesian context, and above all, a rigorous treatment of the cross-layer interactions that turn five technologies into one intelligent system. Version 2.0 answers that call. Every chapter has been substantially expanded. New subsections treat subjects that v1.4 only hinted at: the Viable System Model as a formal ancestor of the layer architecture, Physics-Informed Neural Networks in engineering detail, the Lakehouse architecture pattern for big data, privacy-preserving analytics under Indonesia's UU PDP No. 27/2022, and a Smart System Maturity Model for practitioners who need a roadmap from sensors-and-dashboards to genuinely intelligent operations. Two new appendices have been added. Appendix E introduces the Smart System Maturity Model — a five-level scale analogous to CMM, but designed specifically for the four-layer architecture. Appendix F provides a protocol selection framework that resolves, with decision trees and worked examples, one of the most common practical questions: which IoT protocol do I use, and where in the stack does it live? The running examples remain the same: the chemical reactor, the smart port, the hospital emergency department. But each has been extended with quantitative scenarios that readers can reproduce. Where v1.4 described what the 3 | Building a Mind for Machines system would do, v2.0 shows the equations and code behind the description. The core argument has not changed. Smart systems are not collections of technologies — they are architectures of purpose. The four-layer model exists to ensure that purpose, expressed in human language at Layer 4, survives its translation into equations at Layer 3, state variables at Layer 2, and electrons at Layer 1. That survival is never automatic. It requires deliberate design, and this book is a guide to that design.

Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
LEARNING IN THE SMART SYSTEM ERA: A NEW ARCHITECTURE FOR EDUCATION

Education stands at a crossroads. For centuries, the dream of personalized, mastery-based learning for every child has been thwarted by the constraints of space, time, and scarce resources. Today, those constraints are no longer necessary. The technologies exist to give every student a 24/7 AI tutor, to model each learner’s understanding in real time, and to make mastery—rather than ranking—the norm. But technology alone does not make learning smart. Without a coherent architecture and an unwavering commitment to human purpose, “smart learning” becomes just another layer of shiny tools on an unchanged system. Learning in the Smart System Era offers that architecture. Drawing on the 4-Layer Smart System Paradigm originally developed for industrial systems, Ary Setijadi Prihatmanto and colleagues show how IoT, Digital Twins, Artificial Intelligence, Human-Computer Interaction, and Big Data can be organized into a learning organism that senses, models, decides, and acts—all under the strategic direction of teachers, parents, and learners themselves. The book reimagines the five pillars of education—Curriculum, Pedagogy, Assessment, Credentialing, and Administration— and adds a sixth, Ethics and Safety, to ensure that the smart learning system serves human flourishing rather than undermines it. Learning in the Smart System Era | 5 Through vivid narratives, rigorous engineering, and a deep respect for the timeless act of teaching and learning, this book provides a blueprint for educators, policymakers, technologists, and anyone who believes that education’s highest purpose is the formation of wise, capable, and ethical human beings. The smart system is a mirror; what we see in it, and what we choose to do with what we see, is up to us.

Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
Smart_AMT

SmartAMT merupakan perangkat lunak (software) berbasis MATLAB yang dikembangkan untuk mendukung analisis data dalam bidang geofisika, khususnya pada metode Audio Magnetotelluric (AMT) satu dimensi (1D) dengan menggunakan algoritma Modified Symbiotic Organism Search (mSOS) dengan pendekatan komputasi cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI). Dalam ilmu geofisika, komputasi memegang peranan penting dalam proses pengolahan dan interpretasi data bawah permukaan. Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan perangkat lunak yang efisien, mudah diakses, dan ekonomis menjadi semakin meningkat. Aplikasi SmartAMT dirancang menggunakan pendekatan Graphical User Interface (GUI) sehingga memberikan kemudahan bagi pengguna dalam melakukan pemodelan tanpa harus memiliki kemampuan pemrograman tingkat lanjut. Aplikasi ini terintegrasi dalam lingkungan MATLAB dan dapat diakses melalui menu Apps setelah proses instalasi. Fungsi utama dari SmartAMT meliputi proses forward modeling dan inverse modeling pada data AMT 1D. Pada tahap forward modeling, aplikasi digunakan untuk menghasilkan respon awal berdasarkan model bawah permukaan yang diberikan. Sementara itu, pada tahap inverse modeling, aplikasi digunakan untuk mengestimasi parameter model bawah permukaan berdasarkan data observasi. Keluaran (output) yang dihasilkan oleh aplikasi ini meliputi: Model bawah permukaan satu dimensi (1D), Nilai apparent resistivity, Nilai fase (phase). Dengan fitur-fitur tersebut, SmartAMT diharapkan dapat menjadi alternatif perangkat lunak yang lebih mudah diakses dan terjangkau dibandingkan dengan software komersial yang umumnya memiliki keterbatasan dalam hal lisensi dan biaya. Aplikasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, serta eksplorasi geofisika, khususnya dalam studi resistivitas dan metode elektromagnetik.

Rekayasa Transportasi dan Energi

Hak Cipta
ResLog

Resistivity Logging (ResLog) merupakan perangkat lunak yang dikembangkan untuk melakukan visualisasi dan pengolahan data resistivitas secara real-time selama proses pengeboran (borehole logging). Perangkat lunak ini dirancang untuk membantu pengguna dalam memantau perubahan sifat kelistrikan bawah permukaan secara langsung terhadap kedalaman. Perangkat lunak ResLog dilengkapi dengan antarmuka berbasis Graphic User Interface (GUI) yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pengaturan parameter, menjalankan proses logging, serta memvisualisasikan data dalam bentuk multi-track log panel. Selain itu, perangkat lunak ini juga menyediakan fitur pengolahan data seperti filtering (moving average dan low-pass filter) untuk mengurangi noise, serta analisis gradien resistivitas untuk mengidentifikasi perubahan lapisan bawah permukaan. Hasil pengolahan data dapat ditampilkan dalam bentuk kurva resistivitas terhadap kedalaman dan dapat diekspor dalam format CSV untuk analisis lanjutan.

Rekayasa Transportasi dan Energi

Hak Cipta
Program Spektroskopi Reflektansi untuk Identifikasi Mineral Berbasis Pencocokan Pustaka Spektral

Program ini merupakan sistem analisis spektroskopi reflektansi berbasis komputer yang dirancang untuk identifikasi mineral secara otomatis menggunakan data spektrum reflektansi pada rentang panjang gelombang 350–2500 nm. Program membaca data dari instrumen spektroradiometer lapangan dalam format biner maupun teks terstruktur, kemudian menjalankan tahapan pra-pemrosesan dan pemrosesan spektral reflektansi. Identifikasi mineral dilakukan melalui empat algoritma pencocokan spektral yang berjalan secara terintegrasi: Spectral Angle Mapper (SAM), Spectral Information Divergence (SID), continuum removal-feature matching, dan Linear Spectral Unmixing (LSU). Program juga mengekstraksi parameter diagnostik pita absorpsi, termasuk posisi panjang gelombang, kedalaman relatif, dan lebar pita pada setengah tinggi dari spektrum tanpa kontinum untuk mendukung interpretasi mineralogi semi-kuantitatif hingga kuantitatif. Hasil analisis diekspor secara otomatis ke dalam format CSV dan laporan PDF. Sistem diimplementasikan dengan arsitektur modular yang memisahkan modul logika inti dari antarmuka pengguna, dengan mekanisme background processing untuk menjaga responsivitas selama analisis berlangsung.

Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
Gim Transmission Ecosystem

Gim Transmission Ecosystem dikembangkan sebagai media pembelajaran interaktif yang bertujuan untuk membantu mahasiswa memahami konsep-konsep dalam mata kuliah Elektromagnetika dengan cara yang lebih aplikatif dan menarik. Melalui simulasi dan tantangan berbasis skenario dunia nyata, mahasiswa dapat mengeksplorasi bagaimana medan elektromagnetik bekerja dalam sistem transmisi. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami relevansi dan penerapan langsungnya di berbagai bidang teknologi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
ZTD2PWV

ZTD2PWV is free software developed in Fortran for converting zenith total delays (ZTD) to precipitable water vapor (PWV). This program requires two main inputs, namely tropospheric products in a standard IGS format and meteorological data containing pressure, temperature, and weighted mean temperature. Additionally, users also need to provide station coordinates. The program will read ZTD products from GNSS data analysis and convert them to PWV using meteorological data.

Infrastruktur dan Kebencanaan, Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
Simulasi dan Pemodelan Komparatif Konsekuensi Ledakan Berbasis TNT Equivalent

Ledakan pada fasilitas proses dan penyimpanan bahan berbahaya dapat menimbulkan konsekuensi katastropik dalam waktu sangat singkat, sehingga penetapan jarak aman memerlukan metode screening yang cepat, transparan, dan dapat ditelusuri. Pendekatan beresolusi tinggi seperti computational fluid dynamics (CFD) dan perangkat lunak komersial berbasis model integral mampu memberikan representasi fisik yang lebih rinci, tetapi membutuhkan data masukan yang ekstensif, waktu komputasi yang lebih besar, dan akses lisensi. Sebaliknya, metode empiris berbasis TNT equivalent lebih praktis untuk estimasi awal, namun dalam praktiknya masih sering diterapkan secara manual, terpisah antarkorelasi, dan belum terintegrasi dengan visualisasi zona bahaya yang mudah diinterpretasikan. Kondisi ini menyebabkan pembandingan hasil, keterlacakan perhitungan, dan penurunan konsekuensi terhadap kerusakan struktural maupun cedera manusia belum tersusun secara sistematis dalam satu platform dengan asumsi yang seragam. Kebutuhan akan alat bantu yang mampu menyatukan perhitungan, validasi, dan visualisasi dalam satu alur yang konsisten menjadi dasar pengembangan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan membangun platform simulasi berbasis web yang mengotomasi alur perhitungan TNT equivalent mulai dari inventori dan jarak evaluasi hingga keluaran konsekuensi ledakan. Platform menghitung massa bahan, energi total, massa ekuivalen TNT, scaled distance (Zₑ), scaled overpressure (Pₛ), dan peak side-on overpressure (Pₒ) menggunakan tiga korelasi empiris, yaitu Crowl dan Louvar, Alonso, dan Sadovski, dalam asumsi yang diseragamkan. Keluaran yang dihasilkan meliputi log perhitungan yang dapat ditelusuri, kurva Pₒ–R, kurva Pₛ–Zₑ, klasifikasi konsekuensi berbasis Risk Damage (RD) dan Risk Injury (RI), serta peta kontur zona bahaya untuk mendukung interpretasi awal jarak aman. Validasi dilakukan pada dua kelompok bahan, yaitu amonium nitrat (AN) dan hidrogen (H₂). Untuk studi kasus AN digunakan kejadian Beirut 2020 dan Tianjin 2015. Pada Beirut, nilai Pₒ pada 300 m yang diprediksi oleh Crowl dan Louvar, Alonso, dan Sadovski berturut-turut sebesar 158,67; 120,03; dan 88,244 kPa, kemudian menurun pada 3000 m menjadi 5,609; 3,471; dan 3,136 kPa. Pada Tianjin, nilai Pₒ pada 300 m adalah 110,129; 85,208; dan 63,294 kPa, lalu menurun pada 3000 m menjadi 4,702; 2,848; dan 2,595 kPa. Hasil tersebut menunjukkan pola yang konsisten bahwa Crowl dan Louvar memberikan prediksi paling konservatif, Alonso berada pada tingkat menengah, dan Sadovski cenderung menghasilkan nilai paling rendah. Untuk validasi hidrogen, digunakan dataset eksperimen ledakan Type-IV pressure vessel bursts (PVBs) pada rentang sensor 6–18 m sebagai skenario eksperimen. Alonso memberikan kinerja terbaik dengan MAE 6,006 kPa dan R² 0,999, sedangkan Crowl dan Louvar serta Sadovski menghasilkan MAE 18,136 kPa dengan R² 0,985 dan MAE 17,164 kPa dengan R² 0,993. Selain itu, dilakukan plausibility check terhadap insiden Gangneung 2019 menggunakan muatan ekuivalen sekitar 50 kg TNT. Pada skenario ini, prediksi Pₒ pada 15 m berada pada rentang 51,1–87,1 kPa, sedangkan pada 100 m berada pada rentang 3,59–6,36 kPa. Hasil transfer penskalaan dari skenario eksperimen PVBs ke Gangneung juga menunjukkan konsistensi numerik internal dengan deviasi sekitar −0,27% hingga 0,10%. Pemetaan ambang RD dan RI menunjukkan bahwa keluaran platform tidak hanya memberikan nilai overpressure, tetapi juga dapat digunakan sebagai interpretasi kuantitatif terhadap tingkat kerusakan struktural dan cedera manusia. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa platform yang dikembangkan mampu menyediakan screening konsekuensi ledakan yang kuantitatif, transparan, reproduktif, dan mudah ditelusuri, sekaligus memfasilitasi perbandingan tingkat konservatisme antarkorelasi serta mendukung penentuan jarak aman awal pada skenario AN dan H₂. Dengan demikian, platform ini dapat digunakan sebagai alat bantu analisis awal yang sistematis pada evaluasi bahaya ledakan berbasis TNT equivalent.

Infrastruktur dan Kebencanaan, Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
Simulasi Produksi Garam Air Laut Rakyat

Produksi garam rakyat sangat bergantung pada kondisi meteorologi dan pengelolaan konsentrasi larutan (brine) yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat simulasi produksi garam air laut berbasis Macro VBA Excel dengan mengintegrasikan data geografis spesifik wilayah Suranenggala, Cirebon, dan data cuaca real-time dari NASA POWER periode Agustus hingga September 2025. Simulasi ini mencakup pemodelan laju penguapan dan perubahan kadar garam melalui sembilan tahapan kolam, mulai dari kolam purifikasi, tujuh kolam pemekatan, hingga kolam kristalisasi. Parameter lingkungan seperti radiasi matahari, kelembapan, temperatur, dan kecepatan angin dianalisis pengaruhnya terhadap efisiensi evaporasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi laju penguapan dibandingkan temperatur udara. Berdasarkan hasil simulasi empat skenario target kadar garam, ditemukan bahwa pengaturan target konsentrasi yang tepat pada setiap kolam secara signifikan dapat mempersingkat durasi produksi. Skenario optimal berhasil menurunkan total waktu produksi menjadi 40 hari dengan distribusi durasi yang merata (rata-rata 5 hari per kolam). Pola distribusi yang seragam ini memungkinkan penjadwalan produksi yang lebih terukur dan efektif bagi petani garam dibandingkan skenario dengan waktu tinggal yang tidak merata. Tools simulasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi petani dalam melakukan optimasi lahan dan investasi ukuran kolam guna meningkatkan produktivitas garam nasional.

Pangan dan Kesehatan

Hak Cipta