Klaster

Ganesha Connection

Ganesha Connection merupakan wadah atau platform yang menyediakan produk dan jasa inovatif hasil karya civitas Institut Teknologi Bandung (ITB). ganeshaconnection.com Platform ini mengkurasi berbagai kategori—mulai dari elektronik, alat kesehatan, seni/desain, hingga layanan seperti pelatihan, workshop, dan pembuatan video produksi—yang dikembangkan oleh mahasiswa, dosen, atau alumni ITB. Dengan tagline “Temukan lebih jauh produk pilihan karya civitas ITB”, Ganesha Connection bertindak sebagai jembatan antara inovasi kampus dan pasar—memfasilitasi publik untuk mengakses teknologi, produk, atau layanan riset yang siap komersial. Dari segi nilai tambah: Memberi spotlight kepada inovasi kampus yang mungkin belum dikenal luas. Menawarkan produk riset yang sudah “mentah” ke langkah komersialisasi, sehingga mendukung kegiatan hilirisasi teknologi. Mempermudah pengguna (UMKM, industri, masyarakat umum) untuk mencari solusi inovatif berbasis riset. Singkatnya: Ganesha Connection bukan hanya marketplace biasa, tetapi lebih sebagai ekosistem inovasi yang menghubungkan riset-kampus dengan kebutuhan pasar melalui produk dan jasa kreatif yang terkurasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
Peningkatan Literasi Siswa mengenai Bahan Pewarna Kimia dalam Makanan

Kerupuk mawar mini biasanya dibuat dari bahan dasar tepung tapioka yang dicampur bumbu sederhana, kemudian dibentuk, dikeringkan, dan digoreng hingga renyah. Produk ini banyak diproduksi oleh industri rumahan dan sering dijual dalam berbagai warna mencolok seperti merah, kuning, hijau, dan oranye untuk meningkatkan daya tarik visual. Dua contoh pewarna sintetis yang umum ditemukan dalam produk makanan berwarna adalah tartrazin, hijau brill dan red scarlet. Tartrazin menghasilkan warna kuning cerah, dan red scarlet memberikan warna merah kuat. Dalam jumlah kecil, pewarna ini dianggap aman, tetapi dalam kadar berlebih dapat menimbulkan efek samping pada individu sensitif. Batas ambang penggunaan pewarna makanan ditetapkan untuk memastikan keamanan konsumsi, di mana setiap pewarna sintetis memiliki nilai maksimum berbeda sesuai regulasi. Tartrazin umumnya dibatasi sekitar 70 mg/kg dalam pangan tertentu dan memiliki ADI sebesar 0–7,5 mg/kg berat badan per hari. Red Scarlet juga memiliki batasan penggunaan dengan ADI hingga 4 mg/kg berat badan per hari. Sebaliknya, pewarna alami (seperti daun pandan, daun suji, kunyit, dan karamel) umumnya lebih aman namun warnanya kurang stabil terhadap panas dan penyimpanan. Oleh karena itu, pembelajaran tentang identifikasi pewarna makanan menjadi penting bagi siswa SMA untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keamanan pangan dan penggunaan bahan tambahan yang sesuai aturan. Prinsip dasar yang digunakan dalam analisis pewarna makanan dengan spektrofotometer VIS adalah pengukuran absorbansi cahaya tampak oleh molekul pewarna berdasarkan Hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi zat dan panjang lintasan cahaya. Metode ini mampu mendeteksi zat dalam konsentrasi yang sangat kecil, menjadikannya ideal untuk analisis jejak. Selain itu, teknik ini dikenal karena prosesnya yang cepat, relatif mudah dilakukan, dan menghasilkan data yang akurat. Modul ini bertujuan: Mempelajari prinsip dasar kerja spektrofotometer VIS dalam analisis zat berwarna, Menentukan kadar pewarna sintetis (tartrazin, dan red scarlet) dalam sampel kerupuk secara sederhana menggunakan spektrofotometer VIS. Selain itu, modul ini dapat melatih kemampuan berpikir ilmiah siswa melalui pengamatan, analisis data, argumentasi dan kesimpulan. Dengan kegiatan praktikum ini, siswa akan belajar bagaimana prinsip spektrofotometer VIS diterapkan dalam dunia nyata untuk menganalisis keamanan bahan makanan tradisional seperti kerupuk.

Social Impact, Sustainability, Infrastruktur dan Kebencanaan

Hak Cipta
Penyediaan Air Bersih berbasis teknologi tepat guna filtrasi pasir lambat di kelurahan bukit timah kota Dumai Provinsi Riau

Akses terhadap air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta keberlanjutan pembangunan. Namun demikian, penyediaan air bersih masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia, terutama pada daerah yang didominasi oleh lahan gambut. Salah satu wilayah yang menghadapi permasalahan tersebut adalah Kelurahan Dumai, Kecamatan Dumai Selatan, Kota Dumai, Provinsi Riau, di mana masyarakat masih memanfaatkan air gambut sebagai salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengolah air gambut, seperti koagulasi flokulasi, oksidasi, elektrokoagulasi, teknologi membran, maupun penggunaan bahan kimia lainnya. Namun, sebagian besar metode tersebut memerlukan biaya investasi dan operasional yang relatif tinggi, membutuhkan bahan kimia tambahan, serta memerlukan keterampilan teknis dalam pengoperasiannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi pengolahan air yang sederhana, ekonomis, mudah dioperasikan, serta dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Salah satu teknologi yang memenuhi kriteria tersebut adalah filtrasi pasir lambat (slow sand filtration). Teknologi ini memanfaatkan lapisan media berupa kerikil, pasir kasar, dan pasir halus untuk menyaring partikel tersuspensi, mengurangi warna, menurunkan kandungan bahan organik, serta memperbaiki kualitas fisik air melalui proses filtrasi secara bertahap. Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Keberlanjutan (DPMK) Institut Teknologi Bandung, Kelompok Keilmuan Kimia Analitik FMIPA ITB mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi filtrasi pasir lambat sebagai salah satu solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat Kelurahan Dumai. Selain pembangunan unit filtrasi, kegiatan ini juga mencakup edukasi, pelatihan, dan pendampingan kepada masyarakat mengenai cara pengoperasian, pemeliharaan, serta evaluasi kinerja alat sehingga teknologi yang diterapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Modul ini disusun sebagai panduan praktis bagi masyarakat dalam memahami prinsip kerja, tata cara penggunaan, serta pemeliharaan sistem filtrasi pasir lambat sehingga kualitas air gambut dapat ditingkatkan dan dimanfaatkan secara lebih aman untuk kebutuhan sehari hari.

Advanced Technology, Social Impact, Sustainability

Hak Cipta
Spatially Adaptive Land Value Determination (SALAD) Versi 1.0

Spatially Adaptive Land Value Determination (SALAD) adalah karya tulis dan alat peraga metodologis untuk menentukan serta menyesuaikan nilai tanah secara adaptif bagi modernisasi kadaster fiskal. SALAD mengintegrasikan data bidang tanah, Zona Nilai Tanah, NJOP, transaksi, pola ruang, aksesibilitas, status perkembangan wilayah, kondisi sosial-ekonomi, pembatasan legal, dan data kepatuhan pajak. Prosesnya meliputi pengendalian kualitas data, perhitungan rasio penilaian, stratifikasi spasial, penerapan faktor adaptasi, simulasi dampak PBB-P2, validasi teknis dan sosial, serta penyusunan nilai rekomendasi. Output mencakup peta diagnostik, matriks penyesuaian, skenario fiskal, indikator keterjangkauan, daftar anomali, dan jejak audit keputusan.

Infrastruktur dan Kebencanaan, Teknologi Informasi dan Komunikasi

Hak Cipta
EKSPLORASI PEWARNA ALAMI KULIT KAYU MAHONI (Swietenia mahagoni) PADA KAIN SUTRA SEBAGAI PRODUK MODEST FASHION DENGAN TEKNIK SHIBORI

Industri tekstil merupakan salah satu sektor yang menghasilkan limbah pencemaran lingkungan dalam jumlah besar, terutama dari penggunaan pewarna sintetis. Oleh karena itu, penggunaan pewarna alami perlu dikembangkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung konsep fashion berkelanjutan. Salah satu sumber pewarna alami yang potensial di Indonesia adalah kulit kayu mahoni (Swietenia mahagoni). Namun, pemanfaatannya masih lebih banyak diterapkan pada produk batik sehingga eksplorasi pada warna dan produk fashion modern masih terbatas. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi pewarna alami kulit kayu mahoni pada kain sutra, khususnya menggunakan metode hot dyeing, serta penerapannya pada produk modest fashion dengan teknik shibori (itajime, suji, dan honeycomb). Pemilihan modest fashion didasarkan pada karakter desainnya yang sederhana dan sesuai dengan perempuan di Indonesia, serta dipadukan dengan teknik shibori sebagai alternatif pengembangan motif pada tekstil menggunakan pewarna alami. Proses penelitian dilakukan melalui serangkaian eksperimen dan eksplorasi pewarnaan untuk menghasilkan variasi warna coklat menggunakan beberapa jenis mordan, yaitu tunjung, tawas, dan cuka, dengan teknik mordanting yang berbeda. Eksplorasi dilakukan pada beberapa jenis kain sutra untuk mengetahui pengaruh penyerapan warna dan hasil visual yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarna alami kulit kayu mahoni mampu menghasilkan variasi warna coklat yang berbeda berdasarkan jenis mordan yang digunakan. Hasil pewarnaan pada berbagai jenis kain sutra menunjukkan daya serap warna yang relatif serupa. Uji ketahanan luntur warna dilakukan berdasarkan standar SNI ISO 105. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan mordan cuka lebih lemah pada perubahan warna terhadap pencucian dan keringat basa dibandingkan mordan logam seperti tawas dan tunjung. Meskipun demikian, skala hasil pengujian masih berada pada kategori cukup baik untuk diaplikasikan pada produk busana. Melalui penelitian ini, kulit kayu mahoni sebagai pewarna alami menunjukkan peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan pewarna tekstil yang diharapkan dapat mendukung pengembangan sustainable fashion dalam industri tekstil dan fashion.

Industri Kreatif

Hak Cipta
EKSPLORASI PENGEMBANGAN BIOPLASTIK BERBASIS AGAR-AGAR DAN LIMBAH BENANG UNTUK PRODUK MINI BAG

Saat ini industri fashion, khususnya industri tekstil, tengah menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan limbah. Maraknya fast fashion menjadi salah satu penyebab meningkatnya produksi limbah tekstil yang kini menjadi isu lingkungan global. Selain limbah pakaian, limbah benang juga turut berkontribusi terhadap penumpukan limbah tekstil yang berdampak pada pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi material yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya melalui penggunaan material alami seperti bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan oleh bioplastik berbasis agar-agar yang dikombinasikan dengan serat dari limbah benang sebagai alternatif material ramah lingkungan yang bersifat biodegradable atau dapat terurai secara hayati. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, eksperimen, dan eksplorasi material. Penelitian dilakukan melalui proses eksperimen formulasi bioplastik serta eksplorasi karakter fisik dan visual material menggunakan teknik solution casting. Karya yang dihasilkan dari penelitian ini berupa enam desain mini bag dengan material bioplastik berbasis agar-agar dan limbah benang. Variasi jenis, warna, dan ukuran limbah benang menghasilkan tampilan visual yang beragam dan menarik. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa bioplastik berbahan dasar agar-agar dapat dikombinasikan dengan limbah benang dan berpotensi menjadi alternatif material fashion yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kata kunci: Agar-agar, Bioplastik, Fashion berkelanjutan, Limbah benang, Mini bag

Industri Kreatif

Hak Cipta
EKSPLORASI BIOPLASTIK BERBASIS KELOBOT JAGUNG (Zea mays) DAN PEWARNA ACTIVATED CHARCOAL SEBAGAI PRODUK TAS

Seiring dengan meningkatnya produksi komoditas pertanian di Indonesia setiap tahunnya, sehingga dibutuhkan pengoptimalan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satu limbah yang potensial adalah kelobot jagung (Zea mays). Selama ini, pemanfaatan kelobot jagung masih terbatas pada kerajinan sederhana dan pembungkus makanan tradisional. Namun, dengan kandungan selulosa sebesar 33,45%, kelobot jagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai material tekstil berkelanjutan. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan kelobot jagung dalam formulasi bioplastik berbasis gelatin dengan penambahan pewarna activated charcoal sebagai material utama produk tas. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui serangkaian eksperimen dan eksplorasi formulasi untuk menghasilkan material yang kuat dan fleksibel. Eksplorasi dilakukan terhadap variasi ukuran dan jumlah serat kelobot jagung untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kekuatan, ketebalan, dan visual material. Selain itu, dilakukan juga variasi konsentrasi activated charcoal untuk menguji pengaruhnya terhadap intensitas warna, tingkat transparansi, kekuatan, serta durabilitas material. Pengujian performa material dilakukan melalui uji kekuatan tarik dan uji sudut kontak dengan membandingkan dua sampel, yaitu sampel tanpa activated charcoal dan sampel dengan activated charcoal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan activated charcoal terbukti meningkatkan nilai kekuatan tarik serta meningkatkan sifat hidrofobik material. Produk akhir dibuat menjadi produk tas untuk menunjukkan potensinya sebagai produk fungsional. Meskipun masih dibutuhkan eksplorasi lebih lanjut, penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengembangan tekstil berkelanjutan, terutama di Indonesia.

Industri Kreatif

Hak Cipta
EKSPLORASI PEWARNA ALAM BIJI PINANG (ARECA CATECHU L.) DENGAN TEKNIK EMBROIDERY PADA EMPIRE WAIST DRESS

Warna merupakan salah satu aspek penting dalam produk tekstil dan fashion karena dapat meningkatkan nilai estetika serta daya tarik visual. Hingga saat ini, pewarna sintetis masih banyak digunakan karena praktis dan menghasilkan warna yang beragam. Namun, dampak limbah yang dihasilkan mendorong pengembangan pewarna alami sebagai alternatif pewarna tekstil. Salah satu bahan alami yang berpotensi dimanfaatkan adalah biji pinang (Areca catechu L.) yang mengandung tanin dan mampu menghasilkan warna pada tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi biji pinang sebagai pewarna alami, mengetahui ketahanan warna yang dihasilkan, serta menerapkannya pada produk fashion berupa empire waist dress dengan detail hand embroidery. Penelitian dilakukan melalui proses eksplorasi pewarnaan menggunakan teknik hot dyeingdan cold dyeing pada berbagai jenis kain dan benang dengan variasi mordan. Hasil eksplorasi kemudian dianalisis berdasarkan warna yang dihasilkan dan dilanjutkan dengan pengujian laboratorium untuk mengetahui ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat, dan gosokan. Hasil warna terpilih selanjutnya diterapkan pada produk akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji pinang mampu menghasilkan variasi warna berupa kuning, cokelat muda, cokelat tua, cokelat kemerahan, hingga abu-abu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa warna yang dihasilkan memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap pencucian, keringat, dan gosokan. Penelitian ini menunjukkan bahwa biji pinang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pewarna alami pada produk fashion. Hasil eksplorasi berhasil diterapkan pada produk fashion berupa empire waist dressmenggunakan kain sutera 56 dan detail hand embroidery dengan benang cotton silk hasil pewarnaan alami.   Kata kunci: Pewarna alam, biji pinang, embroidery, empire waist, dress.

Industri Kreatif

Hak Cipta
PENERAPAN ILLUMINATING TEXTILE PADA BUSANA OUTDOOR MELALUI INTEGRASI REKAYASA TENUN FIBER OPTIC DAN BENANG POLIESTER

Peningkatan minat pada aktivitas luar ruangan memunculkan tantangan keselamatan terkait keterbatasan visibilitas di kondisi minim cahaya lingkungan. Solusi pencahayaan konvensional saat ini sering kali kurang praktis dan tidak terintegrasi dengan pakaian pengguna. Menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus pada perancangan busana luar ruangan yang mengintegrasikan teknologi illuminating textile sebagai sistem visibilitas aktif. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan purwarupa busana outdoor melalui teknik tenun (weaving) yang memadukan Polymer Optical Fiber (POF) dengan benang poliester sebagai benang dasar. Purwarupa ini dilengkapi sistem otomatisasi menggunakan sensor fotoresistor (LDR) yang dihubungkan pada rangkaian saklar analog untuk memancarkan cahaya secara efisien saat kondisi gelap, dengan tetap mempertahankan kenyamanan pengguna. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan eksperimental berbasis practice-based research. Data dikumpulkan melalui eksplorasi struktur anyaman menggunakan Tableloom, perancangan sirkuit perangkat keras, serta pengujian produk terhadap efektivitas iluminasi, fleksibilitas gerak, dan ketahanan air. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyisipan serat optik secara struktural melalui kriya tenun dan pemanfaatan sistem sirkuit analog murni yang tangguh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan sandang fungsional kontemporer yang responsif dan protektif.

Industri Kreatif

Hak Cipta